bangsat, makimu
bangsat bangsat
kamu hancur, kamu tertawa, keras sekali, entah menertawakan siapa, dirimu, keretamu, atau malah si penumpang baru?
perjalanan tidak berakhir sampai disitu, sebuah fase telah terlewati, bumi berevolusi dengan baik selama 365 hari. satu cerita yg terpelajari, dengan stasiun favorit dan kereta terbaik pula.
kamu memulai untuk memaafkan dirimu, kamu memulai untuk beradaptasi dengan keadaan yg baru. bertemu sesama penumpang, berbagi cerita tentang yg terjadi di stasiun sebelumnya. beberapa kereta yg asing pun terpapar di depan mata. tanpa sengaja kamu mulai mengorek informasi tentang satu kereta. kereta yg tidak spesial dibanding kereta manapun, kereta aneh yg mempunyai banyak goresan di sana sini. kamu mencari yg berbeda, kamu haus akan penasaran, kamu mulai menyalakan mesinnya, tapi kamu tidak berniat untuk menaikinya. kamu takut, kamu trauma akan rasa sakit yg pernah ditorehkan oleh kereta yg lalu. dengan kecepatan paling lambat kamu berjalan mendampingi keretamu, entah mengapa kereta satu ini mau menjalankan dirinya tanpa memegang komitmen tanpa tau resiko yg mungkin dapat timbul. di tengah perjalanan kamu bertemu dengan kereta lama mu sedang menurunkan penumpangnya. perasaanmu berdesir aneh. kamu melanjutkan perjalananmu dengan berjalan lagi, tidak lama kereta lama mu menyusulmu dengan membawa penumpang baru yg lain dan bergerak jauh di depanmu. setelah itu kamu memutuskan untuk benar2 menaiki kereta baru mu. layaknya sebuah balapan, kamu ingin membuktikan kalau kamu juga bisa menyusulnya. perlahan, terasa, mungkin keadaan tidak se menyenangkan seperti menaiki kereta pertama, tetapi kereta baru mu selalu berusaha untuk tidak membuat mu turun darinya. kereta baru mu tidak akan membiarkanmu berjalan sendirian lagi. mungkin dia bukan kereta yg selalu membuatmu tertawa, mungkin dia bukan kereta yg mengerti ketika kamu menyanyikan lagu dengan lirik tidak jelas, tetapi aku sebagai orang ketiga serba tahu, aku tahu kereta baru mu tidak akan membiarkanmu kamu menghadapi semuanya sendirian. ternyata kamu bahagia, ternyata kamu menikmati perjalanmu. kamu memoles keretamu dengan sangat rapi, merawatnya layak seorang kekasih. sekali lagi revolusi bumi terlewati masih dengan kereta yg sama. tapi sayangnya tak lama setelah itu keadaan busuk mulai merambat, membunuh setiap atmosfer yg ada di sana. kamu memaksa turun, keretamu tidak mengijinkan, ia tetep kekeuh berjalan, kamu tak serantan, kamu mengancamnya dengan merusak mesinnya. lalu kamu benar2 turun dari sana. ingin mencari udara segar, katamu. kamu meninggalkannya terseok2 angin malam dan tersengat teriknya fajar. keretamu tau kamu bosan, ia tau kamu tidak mendapatkan kebahagiaan seperti yg dulu. sesekali kamu menengok keadaan keretamu, diam tak berkutik, sembari memperbaiki dirinya sendiri. kamu bergerak maju mundur tidak karuan. kamu mengetahui bahwa banyak penumpang yg mengantri hanya untuk sekedar menyentuh keretamu. tapi keretamu menolak dengan tegas.
selesai
sebagai seorang pengarang aku tidak tahu harus dilanjut kemana cerita ini, tampaknya aku membuat karakter yg terlalu misterius sehingga aku harus menebak nebak sendiri apa yg nantinya akan dilakukan si penumpang terhadap ceritaku. aku bukanlah penumpang, atau kereta2nya, bukan pula fajar dan angin malam.
tetapi jika aku terlibat dalam cerita itu, ingin sekali aku berbisik di telingamu berbalut ketulusan dan keikhlasan. memberi saran yg mungkin berkali kali akan kamu sanggah kebenarannya. kamu masih muda untuk menentukan pilihan, masih memiliki banyak pertimbangan dengan resiko yg datang satu paket dengannya. untuk karakter favoritku, si penumpang. hidup ini bukanlah untuk menentukan mana kereta yg paling baik, yg lebih baik, atau yg terbaik. sehingga kamu harus menjajalinya satu demi satu, membiarkan salah satunya meninggalkan kamu jauh melangkah kedepan, dan salah satunya lagi terlantar di lajur yg pernah kau lewati. percayalah, bahwasannya kualitas tidak begitu berarti dalam perjalanan ini. tetapi kuantitas lah yg membuatmu mengerti akan jawaban atas pertanyaanmu selama ini. pilihlah kereta yg senantiasa menemanimu melewati berbagai bentuk stasiun. stasiun adalah cinta. pilihlah kereta yg mau menemanimu dalam cinta yg membuatmu nyaman sekaligus membuatmu bosan, cinta yg membuatmu ingin pergi sekaligus bertahan, cinta yg membuatmu ingin menciumnya sekaligus memukulnya. cinta yg membuatmu bahagia sekaligus yg membuatmu sengsara. karena tidak ada cinta yg hanya enaknya saja. lalu i lah semua itu, baik suka maupun duka, bersama kereta yg tepat, yg tidak akan pernah menyerah untuk memahamimu lebih dalam lagi seburuk apapun kondisinya, bersama kereta yg selalu membuatmu tetap tinggal sekeras apapun kamu memaksanya untuk meninggalkannya. aku bisa jamin, meski kereta mu kelewat buruk, atau memiliki kebiasaan antik. kamu berhak bersama kereta yg tidak malu memiliki kamu sebagai penumpangnya, yg membuka semua gerbongnya hanya untuk memperlihatkan kepada kereta lain betapa bangganya ia memiliki penumpang sepertimu. bukan yg malah menutup gerbongnya untuk menutupi segala kekuranganmu dan ketidaksempurnaanmu. beri dirimu kesempatan untuk memberi keadaan kesempatan bahwa perjalanan ini layak dijalani dan dinikmati sembari menunggu akhir dari lajurmu, bersama kereta pilihanmu tentunya. aku tidak menyuruh kamu untuk melupakan kereta lama mu, hanya berikan kesempatan kereta mu untuk melakukan tugasnya sebagaimana mestinya. karena aku tau, keretamu tau apa yg harus ia lakukan.