Sunday, January 24, 2016

0113

surabaya itu aku memasung pikiran
entah apa jadinya
ketika aku bertahan
pada diri sendiri dan segala pertanyaanya

—Apalagi kali ini? , 2016

Friday, January 22, 2016

0116

apa yang spesial menjadi mahasiswa
petang dibangunkan
tuk sekedar mengintip nilai
sial sial sial
kuliah perkara mengumpat
serta menitipkan absen kepada teman
andai saja kamu masih disini
bahkan aku tak akan butuh teman
atau mengumpat mati matian
aneh rasanya
ketika aku ingin mengungkap
semua hal besar bahkan yg terkecil
hanya denganmu
aku dapat berbagi kue dan luka
yang selama ini aku dekap sendiri
aku segan menyuapkannya
ketika kau teguk pun
aku tak berani untuk melihat
suatu saat nanti aku janji
akan sukses dengan tanganku sendiri
dengan doamu juga orang tuaku
disaat itu kita akan bersapa lagi
di dalam pelukan
atau di seberang jalan

—Doakan Aku , 2016

Wednesday, January 20, 2016

0126

Malam-malam bodoh
Dalam menunggu pesan layar sentuh
Yg entah kapan akan datang
Masa lalu ku yang malang
Tak kapok dicampakkan rupanya
Apa salahnya? 
Menyesapi hubungan baik
Seperti kopi di pagi yg pelik
Untuk sekedar bertukar kabar
Menunggu dering yg berdebar
Baik tenang atau gelisah
Lebih baik aku diam di taman
Lalu ditemukan
Daripada mencari
Kepada ia yang terus berlari

—Pesan atau buku matematika? , 2016

Monday, January 18, 2016

0136

sekali lagi
sekian kalinya
aku bertanya
pada diri sendiri
apakah aku menyesal
karena kurang berjuang
atau
hanya rindu ini yg terlalu dalam
yang membuat aku menyesal?

Wednesday, January 13, 2016

0114

apa kabar pagi ini
yang jauh dari cinta
dimulai dengan luka
sedang apa semua ini

puisi tanpa makna
siang hari tanpa kekasih
ada sosok yang berbelas kasih
dengan tatapan merana

di penghujung matahari
kilatan matanya
berbinar perih
seperti bintang di barat daya

hinggaplah langit gelap
di sisi hati yang paling pekat
berserakan kenangan
di antara 2 angan

dahsyatnya rindu
membangunkan petir
menyambar sepi dan pilu
meninggalkan luka yang getir

langit menangis hebat
rupanya tak mampu ditambat
karena terlambat
takut luka akan menyayat

usai sudah hari ini
ditutup dengan titik
tanpa kehadiranmu disini
memandangi hujan menyisakan rintik

—Sekali lagi hari tanpamu, 2016






Friday, January 1, 2016

0040

sudah setahun rupanya
setelah kutuliskan resolusi
yang tak akan terjadi pula
untuk apa? tak perlu

suara bising membuatku diam
aku sepi dalam ramaiku sendiri
habislah masa berlaku
tersisa malam yang semu

bukankah langit tetap sama
sebanyak apapun kita menatapnya
atau kembang api yg kita impikan
apakah masih tetap sama pula

semua berakhir malam ini
begitu juga dengan kita
tapi rupanya tidak dengan puisi ini
yang selalu dimulai dari kata kita

tidak ada kata indah
atau harapan yg digantungkan
hanya aku dan kamu
yang selalu berpura pura sungkan

kita yang selalu berlari menjauh
yang mendekat di dini hari
dalam pikiran yg selalu disembuyikan
agar kita bisa tertidur pulas

mengerikan bukan
bagaimana 365 hari
dapat membolak balik segala
dari amin kemudian bismillah

dibawah atap putih kuucap doa
untuk selalu menghitung
dan dibantu olehmu
sederhana yang bermakna

hari ini
atap putih itu roboh
bersama hitungan kita
yang tak tau berhenti dimana

356...312...273

semua lebur tak jelas
lelah mulut bertanya 
pada pertanyaan tanpa jawab
atau hanya kamu yg memilih diam

bahkan orang gila sekalipun
dapat berbicara
meski rupanya
tak pernah pantas

tapi kamu yg selalu pantas
membuat seseorang gila
dengan kebisuanmu yg dibuat buat
siapa yg tidak tertawa coba

ini jalan yg kupetik
setelah 90 kali waktu aku merenung
kamu tak akan maju bukan
maka izinkan aku tuk mundur

permisi,
aku tak hidup dalam balut ragu mu
jalani saja jalan pura pura bersyukurmu
tiap kali kau merasa tak cukup

lari saja se kencang nya
hingga kamu terjatuh
dan pulang ke rumah
atau terus berpindah jejak

dimana atau kemana kamu lari
matahari akan tetap hangat
senyum akan menyembuhkanmu
dan kamu akan kembali hidup 

dengan siapapun 
yang jauh lebih baik
aku akan selalu mengamini
dalam ibadah dan setiap taun baru

—Puisi Pertama, 2016