sudah setahun rupanya
setelah kutuliskan resolusi
yang tak akan terjadi pula
untuk apa? tak perlu
suara bising membuatku diam
aku sepi dalam ramaiku sendiri
habislah masa berlaku
tersisa malam yang semu
bukankah langit tetap sama
sebanyak apapun kita menatapnya
atau kembang api yg kita impikan
apakah masih tetap sama pula
semua berakhir malam ini
begitu juga dengan kita
tapi rupanya tidak dengan puisi ini
yang selalu dimulai dari kata kita
tidak ada kata indah
atau harapan yg digantungkan
hanya aku dan kamu
yang selalu berpura pura sungkan
kita yang selalu berlari menjauh
yang mendekat di dini hari
dalam pikiran yg selalu disembuyikan
agar kita bisa tertidur pulas
mengerikan bukan
bagaimana 365 hari
dapat membolak balik segala
dari amin kemudian bismillah
dibawah atap putih kuucap doa
untuk selalu menghitung
dan dibantu olehmu
sederhana yang bermakna
hari ini
atap putih itu roboh
bersama hitungan kita
yang tak tau berhenti dimana
356...312...273
semua lebur tak jelas
lelah mulut bertanya
pada pertanyaan tanpa jawab
atau hanya kamu yg memilih diam
bahkan orang gila sekalipun
dapat berbicara
meski rupanya
tak pernah pantas
tapi kamu yg selalu pantas
membuat seseorang gila
dengan kebisuanmu yg dibuat buat
siapa yg tidak tertawa coba
ini jalan yg kupetik
setelah 90 kali waktu aku merenung
kamu tak akan maju bukan
maka izinkan aku tuk mundur
permisi,
aku tak hidup dalam balut ragu mu
jalani saja jalan pura pura bersyukurmu
tiap kali kau merasa tak cukup
lari saja se kencang nya
hingga kamu terjatuh
dan pulang ke rumah
atau terus berpindah jejak
dimana atau kemana kamu lari
matahari akan tetap hangat
senyum akan menyembuhkanmu
dan kamu akan kembali hidup
dengan siapapun
yang jauh lebih baik
aku akan selalu mengamini
dalam ibadah dan setiap taun baru
—Puisi Pertama, 2016