Monday, February 27, 2017

1738

pagi itu aku bermimpi jauh dan dalam
dibalik kabut dan segala yg sementara
kujumpai raga yg pernah aku cinta
dibalik dermaga kedatangan masa silam
aku ingin mengucap dan mengecup
tapi aku hanya seorang bisu dan lumpuh
tanganku keram, sedang kapalmu karam
apa yg terombang-ambing?
dan dari sentuhan atau perasaan?
jangkar menenggelamkan dirinya sendiri
mematung di kedalaman yg paling biru
tiba-tiba aku mampu berlari, kuat sekali
tapi hanya ada hamparan dek kayu tua
kemudi yg kosong dan layar yg bolong
Hahahahaha
nyatanya aku sedang merebut kapalmu
dan aku akan selalu melewatkanmu

Bunga Tidur, 2017

Tuesday, February 14, 2017

0627

highkey,
everything were always just like this
a saint birds forget how to sing in church
a faded leaves happily fly to the roof
ready to its death; in any possible way

lowkey,
everything were always had any other side
old woman choose to pray; because the bird remain silent
the tree finally turning over a life; because leave has go
no one is going to cry this time; because of its death

everything you could ever think?
-Think Different, 2017

0604

semuanya bak badai kadaluarsa
karena dulu aku pernah terbawa
oleh pusaran masuk sebuah kesengsaraan
jauh sebelum kebahagiaan ini ada

kemudian aku berdiri di titik jauh
menangkap kejadian pada satu kali lensa
aku menari di atas degup paling gelisah
berputar, mengecup peluh realita

dengan memeluk setiap ombak yg bermuslihat
aku dapat membuka semua ketidakmungkinan
serta mengubur bayangmu dalam bayang senja
kedatanganmu, kamuflase paling menyakitkan

-Badai Kadaluarsa, 2017

Saturday, February 11, 2017

0323

hello! so you must be someone who clicks this links in somewhere
I believe you already know me before. or not?
this is my first time I open this site for public
I hope you comfortable with that
so, you like reading?
that's good
you don't like reading?
it's ok, you can kindly leave then

rules applied:
1. everything that I writes is not always about me
2. everything that you reads is not always about you

okay. sit tight and have a pleasant read.

0125

semua yang berlanjut
dilanjutkan dengan koma
lalu yang berakhir
diakhiri dengan titik

setiap ditinggalkan
diberi perpisahan
setiap pertanyaan
dibubuhi jawaban

adalah kita yang segera berakhir
karena tak sempat memberi koma

melempar pertanyaan
pada setiap perpisahan

memutuskan saling meninggalkan
tanpa pernah memberi jawaban

-Klasik, 2017

0059

kupangkas kau serupa segitiga
kuberi kau garis membentuk layang-layang
dua-dua nya dan seterusnya selalu gagal
pernah aku menyelami setiap sudutmu yang siku-siku
namun yang tersisa hanyalah sebuah celah kemustahilan
kau menolak keras setiap perbedaan
sehingga yang masih ada adalah fikiranmu
dan semua yang selalu membentuk sekat-sekat
tak ada formula yang pernah berkembang
hanya hasil yang sama disetiap sama dengan
lalu sebuah persamaan akan datang
membuat deretan yang semakin panjang
untuk setiap persegi dan semua idealisme mu

-Kontroversi Persegi, 2017

Tuesday, February 7, 2017

0507

Pras 
a.

Bagian kecil dari Kediri
Adalah setenang-tenangnya
Tempat berkopi darat
Mengasingkan bising
Dari alun-alun percintaan

"Sini, kembali"
"Temui aku di gang Slamet"
"Tapi aku hanya punya kaki ini"
"Iya, namun apa peduli ku" 
"Kita definisi lelah, benar begitu?"

Melanjutkan hal yang lalu
Di kota kecil penuh pelapukan
Hanya demi dan sambil
Mengagumi rumah paling besar
Milik pedagang paling kaya

"Sepatu mahal, jangan hilang"
"Iya janji, masuk, jamuan sudah dimulai"
"Aku butuh bir"
"Tunggu satu minggu lagi"
"Aku tak mengerti"
"Galatin ini sedap, coba lah sesendok"
"Sekarang sudah satu minggu belum?"
"Jangan kecewa jika belum"

Ragi dan Fermentasi
Pernah terlintas dan ter-endus
Sejenak beberapa saat yang dulu
Mungkin teman Aglomerasi
Atau orang tua Transportasi

"Jadi.. lebih nikmat Legen atau Arak?"
"Kau ini pandai bertanya, sabarlah"
"Yasudah, aku tambah Trancam nya"
"Baik, nasi juga ya, masih banyak"
"Terimakasih istriku.. eh kawanku"

Tak terduga apalagi terasa
Meski seminggu berlalu cepat
Aku ingin tinggal lebih lama
Mabuk di teras rumahnya
Melantur di leher dan telungkuknya

"Aku penggemar beratmu"
"Berhenti, sudah"
"Siap grak.. ayo giliranmu minum"
"Sinting, edan kau ya"
"Tak perlu malu, aku ingin memelukmu"
"Serendah itu ya aku di matamu"
"..."
"Asal kau tau pemuda. Aku tak pernah minum juga tak pernah sudi untuk kau dekati"
"..."
"Tak pernah, sekalipun"
"Jangan dulu salah sangka"
"Aku tak memulai nya"
"Saat ini aku mabuk berat. Setidaknya aku tau yang aku katakan bahwa itu benar adanya. Aku masih terlalu waras untuk mencintaimu setulus itu. Menjelang pagi begini kau sudah menyakitiku, padahal kita mengerti diantara kita berdua hanya kau yang paling sadar. Tapi kau malah sengaja. Maaf. Maaf. Salamkan pada keluarga, masakan mereka tak ada duanya. Assalamualaikum, aku mau ke masjid, menunggu sholat shubuh. Tak usah menunggu 40 hari tak apa kan..." 
"..."

Sarastri

Aku melihat harapan
Jauh dan semakin hilang
Tenggelam diantara kabut
Disantap bayang kegelapan
Hanya hatinya yang murni
Menyinari setiap harapan
Menjemput sisa kebaikan
Yang akhirnya aku geletakkan 
Pada teras rumah di sebuah dipan

Pras
b.

Ia segera pulang
Melewati terminal waktu
Logika ini tetap menetap
Firasat masih melekat
Kiblat, sajadah sudah dilipat
Tersisa sepasang kaki
Serta setumpuk makian
Perasaan dan penyesalan
Adalah seburuk-buruknya hal
Yang menusuk akal pikirmu
Bus Rukun Jaya yg terakhir
Melintasi cakrawala kota
Pada jingga-jingga nya hawa

Hati-hati di jalan
Tidurlah di batas Kediri
3 bulan yang dibutuhkan
Untuk pulang—
Merebahkan pertanyaan
Ketika aku mapan
Dan tidak berantakan
Jalaran..
Tresno soko kulino!
Sarastri, 
calon istri, ku.

Sedetik oleh Pras&Sarastri, 2017;Pare

Monday, February 6, 2017

0413

cerita dibalik udang
mereka tak pernah menyadari,
hingga abad ke 19,
bahwa itu adalah makanan petani,
yang biasanya sering disajikan di penjara

cerita dibalik berlian
hanyalah sebuah batu,
hingga tahun 1983,
lalu bagian pemasaran berkampanye,
untuk selamanya menghubungkan hal itu dengan cinta

cerita dibalik seni
hal itu tak pernah menjadi karya agung
hingga itu dibeli dan digantung,
di sebuah dinding,
di tempat tinggal seseorang

cerita dibalik kita
adalah hingga saya kehilangan anda
tapi saya tak pernah tahu
apakah anda memang benar layak

—Cerita Dibalik Udang, 2017

ps: translated to bahasa from Mouthful of Foreveness in The Story behind Lobster by Clementine Von Radics

Sunday, February 5, 2017

0404

aku akan belajar hidup sendiri, August
dan tanpa;
telingamu yg sabar menerima setiap keluh kesahku
senyum mu bahkan hadir setelah aku berhenti bicara
matamu lekat menetap meski aku berpaling menahan tangis
tanganmu laksana pengingat batasku dalam setiap amarah

akan selalu ada masa dimana kita mengingat satu sama lain,
atau melupa karena tuntutan euphoria cita-cita yang tinggi

banyak kemenangan yg kita raih dalam memerangi rindu
terlihat pada pelepasan perasaan saat kita akhirnya bertemu

rasanya aku ingin mendengar kabar baik tentang mu di atas motor,
mencubit bahu mu karena kau nakal dan pandai berbohong

aku ingin selamanya menunggu mu menyelesaikan ibadah
lalu menyantap makanan sahur yang tidak pada waktunya

tak akan pernah lagi meyakinkanmu bahwa aku sudah makan
tak ada lagi waktu yang coba aku ulur dalam perjalanan pulang

karena apa telah terjadi, biarlah sudah
sekarang aku mengaku salah dan kalah

aku salah telah melewatkanmu, August
aku kalah dalam menyangkal perasaanku

akan ada harga yang selalu aku bayar
untuk menebus dosa dan kesalahanku

aku akan tetap menyalahkan diri sendiri
dan hal ini bisa berlaku seumur hidupku

August..
aku baik, sehat dan sudah makan
aku harap mimpi mu dapat terselesaikan

secepat mungkin waktu akan memperbaiki semuanya,
hingga saat itu mari kita sederhanakan perasaan yang ada

memang akan lama,
tapi kita akan tetap sama.

The Last August, 2017

0247

Lebih baik berjarak meski maya,
Daripada dekat tanpa dialektika
Karena jarak terjauh adalah ketika
Yang dekat tidak hadir sebagai realita

—Soetta, 25 sept

Friday, February 3, 2017

0247

.
lihat sungai itu, ranting cempaka menjatuhkan diri terhilir ke muara
pada sore-sore sekali, merpati enggan pulang, terbang rendah tanpa suara
satu ingatan tentang musim kuning, daun rentan kecoklatan, hati beku membiru
pulang.. pulang.. aku ingin pulang di dekap jantungmu yg tak henti berkobar

..
menangis aku di persimpangan waktu, tersedak alibi yg sedikit murahan
kekosongan hebat bagai memborbardir sejuta tanda tanya tanpa jawaban
kerap meninggalkan seorang wanita yg tak mampu kau miliki, karena—
meski tak pernah berkesempatan, kebahagianmu selalu aku semogakan

...
pada bulan paling april; 
terjadi jatuh hati paling kemarau
dan patah hati paling hujan.

—Pada Suatu Musim, 2017