Pras
a.
Bagian kecil dari Kediri
Adalah setenang-tenangnya
Tempat berkopi darat
Mengasingkan bising
Dari alun-alun percintaan
"Sini, kembali"
"Temui aku di gang Slamet"
"Tapi aku hanya punya kaki ini"
"Iya, namun apa peduli ku"
"Kita definisi lelah, benar begitu?"
Melanjutkan hal yang lalu
Di kota kecil penuh pelapukan
Hanya demi dan sambil
Mengagumi rumah paling besar
Milik pedagang paling kaya
"Sepatu mahal, jangan hilang"
"Iya janji, masuk, jamuan sudah dimulai"
"Aku butuh bir"
"Tunggu satu minggu lagi"
"Aku tak mengerti"
"Galatin ini sedap, coba lah sesendok"
"Sekarang sudah satu minggu belum?"
"Jangan kecewa jika belum"
Ragi dan Fermentasi
Pernah terlintas dan ter-endus
Sejenak beberapa saat yang dulu
Mungkin teman Aglomerasi
Atau orang tua Transportasi
"Jadi.. lebih nikmat Legen atau Arak?"
"Kau ini pandai bertanya, sabarlah"
"Yasudah, aku tambah Trancam nya"
"Baik, nasi juga ya, masih banyak"
"Terimakasih istriku.. eh kawanku"
Tak terduga apalagi terasa
Meski seminggu berlalu cepat
Aku ingin tinggal lebih lama
Mabuk di teras rumahnya
Melantur di leher dan telungkuknya
"Aku penggemar beratmu"
"Berhenti, sudah"
"Siap grak.. ayo giliranmu minum"
"Sinting, edan kau ya"
"Tak perlu malu, aku ingin memelukmu"
"Serendah itu ya aku di matamu"
"..."
"Asal kau tau pemuda. Aku tak pernah minum juga tak pernah sudi untuk kau dekati"
"..."
"Tak pernah, sekalipun"
"Jangan dulu salah sangka"
"Aku tak memulai nya"
"Saat ini aku mabuk berat. Setidaknya aku tau yang aku katakan bahwa itu benar adanya. Aku masih terlalu waras untuk mencintaimu setulus itu. Menjelang pagi begini kau sudah menyakitiku, padahal kita mengerti diantara kita berdua hanya kau yang paling sadar. Tapi kau malah sengaja. Maaf. Maaf. Salamkan pada keluarga, masakan mereka tak ada duanya. Assalamualaikum, aku mau ke masjid, menunggu sholat shubuh. Tak usah menunggu 40 hari tak apa kan..."
"..."
Sarastri
Aku melihat harapan
Jauh dan semakin hilang
Tenggelam diantara kabut
Disantap bayang kegelapan
Hanya hatinya yang murni
Menyinari setiap harapan
Menjemput sisa kebaikan
Yang akhirnya aku geletakkan
Pada teras rumah di sebuah dipan
Pras
b.
Ia segera pulang
Melewati terminal waktu
Logika ini tetap menetap
Firasat masih melekat
Kiblat, sajadah sudah dilipat
Tersisa sepasang kaki
Serta setumpuk makian
Perasaan dan penyesalan
Adalah seburuk-buruknya hal
Yang menusuk akal pikirmu
Bus Rukun Jaya yg terakhir
Melintasi cakrawala kota
Pada jingga-jingga nya hawa
Hati-hati di jalan
Tidurlah di batas Kediri
3 bulan yang dibutuhkan
Untuk pulang—
Merebahkan pertanyaan
Ketika aku mapan
Dan tidak berantakan
Jalaran..
Tresno soko kulino!
Sarastri,
calon istri, ku.
—Sedetik oleh Pras&Sarastri, 2017;Pare