aku akan belajar hidup sendiri, August
dan tanpa;
telingamu yg sabar menerima setiap keluh kesahku
senyum mu bahkan hadir setelah aku berhenti bicara
matamu lekat menetap meski aku berpaling menahan tangis
tanganmu laksana pengingat batasku dalam setiap amarah
akan selalu ada masa dimana kita mengingat satu sama lain,
atau melupa karena tuntutan euphoria cita-cita yang tinggi
banyak kemenangan yg kita raih dalam memerangi rindu
terlihat pada pelepasan perasaan saat kita akhirnya bertemu
rasanya aku ingin mendengar kabar baik tentang mu di atas motor,
mencubit bahu mu karena kau nakal dan pandai berbohong
aku ingin selamanya menunggu mu menyelesaikan ibadah
lalu menyantap makanan sahur yang tidak pada waktunya
tak akan pernah lagi meyakinkanmu bahwa aku sudah makan
tak ada lagi waktu yang coba aku ulur dalam perjalanan pulang
karena apa telah terjadi, biarlah sudah
sekarang aku mengaku salah dan kalah
aku salah telah melewatkanmu, August
aku kalah dalam menyangkal perasaanku
akan ada harga yang selalu aku bayar
untuk menebus dosa dan kesalahanku
aku akan tetap menyalahkan diri sendiri
dan hal ini bisa berlaku seumur hidupku
August..
aku baik, sehat dan sudah makan
aku harap mimpi mu dapat terselesaikan
secepat mungkin waktu akan memperbaiki semuanya,
hingga saat itu mari kita sederhanakan perasaan yang ada
memang akan lama,
tapi kita akan tetap sama.
—The Last August, 2017
No comments:
Post a Comment