Lara itu masih ada
Perasaan yang berhuru hara
Katanya,
Biarkan dia saja yang kuat
Tak apa mesti begitu berat
Kerap kali dusta jadi juara
Kebenaran sebatas panasnya bara
Katanya,
Ayolah kita mengikat busur
Ayolah kita meminum anggur
•
Siapa yang kau rindukan, nan ?
Tidak, bukan lara
Mereka tau betul, bukan dia
Saya yakin, bukan dia
Siapa dia?
Dia yang malang
Dia sang lara
Iya saya tau, lara mencintaimu
Betul, nan
Saya tak mungkin salah
Tempo hari, lara tidak bungkam
“apa-apa yang terjadi, biarlah nan bahagia dulu, lara belakangan saja”
katanya tenang..
“lara punya cita-cita”
disambungnya..
Lara, lara
Lara, ku
Cita-cita baiknya seperti,
Tangga yang tak berujung
Tinggi dan tak terbatas
Namun lara tak akan lupa,
Caranya turun.
“Lara ingin betul nan mengenal indah. Bahwa indah akan selalu ada....bukan fiktif. Lara hanya lah awalan, tetapi indah akan selalu ada di akhir. Lara sudah memberikan rasa sakit terhadap nan, saatnya nan bertemu indah saja”
Aku memeluk lara
Menyakitkan
Lara melepaskanya
Lalu berkata..
“Sudahlah tak semua nya bisa di ikat seperti busur, terlebih kita. atau diminum seperti anggur, terlebih air mata”
—Lara nan Indah, 2015