Thursday, November 26, 2015

2159

Anak anak yg belum dilahirkan
Tetapi sudah di impikan
Tak akan jadi fakta
Bila tak bersama mu

Nilufer, saravine
Begitulah kami memanggilnya
Namun ia tetap tak tertarik
Cukup dengan melirik

Tawa nya naif
Palsu
Dan tidak mengamini
Aku muak

Biar saja aku besarkan anak ini
Bersama mimpi sejak dini

Meski tak kau amini, aku tak peduli
Tapi jangan kau sesali

-Puisi untuk Nilufer dan Saravine, 2015



Wednesday, November 25, 2015

2250

mengendus hujan
di tengah malam
dalam gelapnya ruang
sambil menikmati sepotong lagu,
between the bars
rasanya,
seperti pulang ke rumah

tapi aku lupa jalan


aku ingin kembali ke rumah
namun,
aku juga tak ingin mengingat jalan


-Patah, 2015


Saturday, November 21, 2015

2303

sebuah dini hari yg diselimuti sore
berteduhkan senandung 
yang memayungi sebuah dialog

hiruk pikuk bumi
membuat langit tenang
namun keduanya berkecamuk
dalam semestanya masing-masing

alunan itu mengantar semesta
menjadi lupa lalu ingat
kalau mereka memang berbeda

susah payah ditahannya!
langit runtuh juga, ia berisik
diamlah bumi, ia terusik

lalu semesta bersatu
bercakap bak kompas rusak
salah arah!

sorotan lampu
lalu menyadarkan
semesta yg ingin saling memejam

tapi

biarlah semesta saling menatap,
untuk beberapa tahun cahaya

langit dan bumi yg selalu berpisah
tapi tak pernah terpisahkan

—Sore Aurora, 2015



1455

sepatah kata yg diucap
terasa asing rasanya
seperti
garam beradu dengan luka
pedih, lalu tak apa

lekas, aku tidak tau sepatah kata
yang katanya dulu semanis gula jawa

diri dihujat ribuan lara
penuh tanda tanya
tentang sepatah kata
benarkah?

sudahlah
patahkah saja, sepatah kata
tak usah ada lagi kita
anggap saja semua rata

tak apa
aku juga belum membantah
meski sebenarnya,
kamu lah yg telah patah

—Kosakata, 2015

Wednesday, November 18, 2015

2352

pagi yg pudar
diselingi keluh semesta yg mengamuk
kering, panas
namun semua orang was was
bak hujan

tidakkah kamu ingat?
tentang pagi
yg meluluhlantahkan sebuah lapangan
hingga kalimat jail itu
tak pernah terlihat?

tidak, bukan?

tidakkah kamu ingat? 
seseorang?
bergerak riwa riwi, tak jelas
memandangmu
tak pernah kenal kelilipan

tidak bukan?

saya hanya tersenyum

ketika saya duduk
disebuah gundukan kayu
disapalah saya
yg segera kujemput hangat

saya tak pernah lupa
apa artinya

saya tak pernah lupa


—Debu, 2015

2341

malam itu,
setiap malam yg kupejam
hanya tuk menabur doa
dalam bibir yg basah
tetapi kulit yg kering

meringkuk di balik kesunyian gigil
yg lalu kueratkan ikatan ini
bersama dengan Tuhan

aku kagum 
dengan kuasaNya
kuagungkan namamu,
selalu
disetiap aku menghadapNya

biarlah hawa yang merasa,
dan
dinding yg mendengar

jutaan doa yg tak pernah menjadi sia
meski aku hanya berharap
untuk selalu seperti ini
dalam dingin dan gelap
namun terus cinta yg bergelora

—tetaplah, 2015


Tuesday, November 10, 2015

2354

Suatu hari aku ingin pergi ke gunung-gunung yang lebih menerima seluruh lelah.
Atau ke hutan-hutan yang membuat tenang. Atau mungkin juga ke pantai yang tak pernah menolak kedatangan air-air kesedihan yang dibawa lautan.

Suatu hari aku ingin pergi dan tak meninggalkan jejak raut di ingatanmu. Atau air mata yang membuatmu menyesali kehilangan yang berkali-kali. Atau mungkin diam-diam beranjak sebelum kau berharap matahari dan aku akan berada di sampingmu.

Suatu hari aku ingin kita pergi tanpa sepatah kata, tanpa puisi yang akan kaubaca saat sunyi, juga tanpa nyeri yang menyiksa saat angin malam masuk ke pori-pori.

Suatu hari aku ingin kita berpapasan dan tak saling mengenali. 


— @arcotransep

2217

kalut dalam perihnya rindu
tentang sekelebat sosok kamu
bahasa asing yang berguru
ketika kamu datang bersama kuyup
duduk lalu bersandarlah aku

mati dingin yang menghangatkan
berbicara bak kelaparan
waktu yang tak mengijinkan
sesuatu yang memisahkan
tapi tetap tangan tak terlepaskan


sekejap saja waktu mencuri memori
ketika datang rintik yang sama
namun kamu yang tak lagi sama


—hujan bulan november, 2015




Wednesday, November 4, 2015

0056

Lara itu masih ada
Perasaan yang berhuru hara
Katanya,
Biarkan dia saja yang kuat
Tak apa mesti begitu berat

Kerap kali dusta jadi juara
Kebenaran sebatas panasnya bara
Katanya,
Ayolah kita mengikat busur
Ayolah kita meminum anggur


Siapa yang kau rindukan, nan ?

Tidak, bukan lara
Mereka tau betul, bukan dia
Saya yakin, bukan dia 

Siapa dia?
Dia yang malang
Dia sang lara

Iya saya tau, lara mencintaimu
Betul, nan
Saya tak mungkin salah

Tempo hari, lara tidak bungkam 
“apa-apa yang terjadi, biarlah nan bahagia dulu, lara belakangan saja”

katanya tenang..

“lara punya cita-cita”

disambungnya..

Lara, lara
Lara, ku
Cita-cita baiknya seperti,
Tangga yang tak berujung
Tinggi dan tak terbatas
Namun lara tak akan lupa,
Caranya turun.

“Lara ingin betul nan mengenal indah. Bahwa indah akan selalu ada....bukan fiktif. Lara hanya lah awalan, tetapi indah akan selalu ada di akhir. Lara sudah memberikan rasa sakit terhadap nan, saatnya nan bertemu indah saja”

Aku memeluk lara
Menyakitkan

Lara melepaskanya
Lalu berkata..

“Sudahlah tak semua nya bisa di ikat seperti busur, terlebih kita. atau diminum seperti anggur, terlebih air mata”


—Lara nan Indah, 2015