Friday, December 30, 2016
2144
Saturday, December 3, 2016
0308
1
Mataku api yang takpernah bisa menyelesaikan kobarnya:
maka tutup matamu.
Mari kita bayangkan: sepasang lengan kita —
bakal pohon angsana yang saling melilitkan akar.
Kelak kaubisa menebaknya:
apa yang terbakar dan siapa yang terkapar;
apa yang menjadi bara dan dari dahan sebelah mana
terdengar teriakan burung-burung yang berabad lalu
membuat sarang di tubuh kita.
2
Suatu malam aku bermimpi:
aku melihat sekawanan badai nakal;
jerat gelombang yang membungkus sampan nelayan;
juga mercusuar yang meneteskan airmata.
.
Kurahasiakan darimu,
kusimpan lanskap mengerikan itu
di jantung laut dalam.
3
Tapi puisi masih menuliskan dirinya sendiri
di lembar-lembar tubuhku dan tubuhmu:
buku-buku yang saling mengasihani
di rak-rak berdebu sebuah perpustakaan.
Kau bertanya kepadaku: “kata apa yang menurutmu paling puisi?
Aku menjawab pertanyaanmu dengan pertanyaan:
“apakah engkau lupa, sejak kapan kita berhenti menjadi puisi?”
“Selain langkah, benarkah sajak pernah meninggalkan jejak?”
4
Akar tidak mampu melawan gravitasi.
Seperti cinta:
ia tidak mampu melawan dirinya sendiri.
—yang pernah dan akan terus aku sajakkan, 2016
narasibulanmerah