Saturday, December 3, 2016

0308

1


Mataku api yang takpernah bisa menyelesaikan kobarnya:

maka tutup matamu.


Mari kita bayangkan: sepasang lengan kita —

bakal pohon angsana yang saling melilitkan akar.

Kelak kaubisa menebaknya:

apa yang terbakar dan siapa yang terkapar;

apa yang menjadi bara dan dari dahan sebelah mana

terdengar teriakan burung-burung yang berabad lalu

membuat sarang di tubuh kita.


2


Suatu malam aku bermimpi:

aku melihat sekawanan badai nakal;

jerat gelombang yang membungkus sampan nelayan;

juga mercusuar yang meneteskan airmata.

.

Kurahasiakan darimu,

kusimpan lanskap mengerikan itu

di jantung laut dalam.


3


Tapi puisi masih menuliskan dirinya sendiri

di lembar-lembar tubuhku dan tubuhmu:

buku-buku yang saling mengasihani

di rak-rak berdebu sebuah perpustakaan.


Kau bertanya kepadaku: “kata apa yang menurutmu paling puisi?


Aku menjawab pertanyaanmu dengan pertanyaan:

“apakah engkau lupa, sejak kapan kita berhenti menjadi puisi?”


“Selain langkah, benarkah sajak pernah meninggalkan jejak?”



4


Akar tidak mampu melawan gravitasi.

Seperti cinta:

ia tidak mampu melawan dirinya sendiri.


yang pernah dan akan terus aku sajakkan, 2016


narasibulanmerah

No comments:

Post a Comment