pedih
pudar
lalu hilang
ketika aku selalu melenyapkan raga untuk masuk ke dalam jauh duniamu, bermuara kemana, berhenti dimana.
kuberikan diri ini untuk menghidupkan diri yang lain, satu persatu ditelan, kemudian apalah artinya kekal?
kamu datang bersama gelapnya fajar, lalu pergi tak sopan ketika ia berwarna jingga.
aku tak pernah habis, setiap kali kau singgah. sentuhanmu yg mengecup ragaku terombang ambing terbawa waktu.
waktu itu cepat, ombak perkasa
tapi dalam naunganmu aku tak pernah merasa kecukupan
bagaimana pun harus dihentikan
meski aku tak akan pernah lupa bagaimana rasanya menghanyutkan diri
akankah semua rasa masih tetap sama ketika datang deru ombak lain yang menghantam tubuhku?
aku pun tak pernah lancang hanya untuk sekedar membayangkannya, ombak.
No comments:
Post a Comment