Tuesday, April 21, 2020

0124

tak banyak yang aku tau mengenai bagaimana semesta bekerja, ia terlalu banyak meninggalkan hal-hal diluar nalar pikir, diluar apa-apa yang mampu dijawab, dijelaskan tapi selalu mampu untuk diperdebatkan. seperti dahulu kala, bagaimana seorang kartini melawan rasa ketidakamanan yang tumbuh dalam dirinya?

apakah ia akan menulis
apakah ia akan menangis

apakah ia cukup dibekali bahwa apa yang ia rasakan adalah perasaan tidak aman?

menjadi seorang wanita dan memiliki perasaan tidak aman menjadi paket komplit yang sulit dipisahkan. insecurity, kami menyebutnya. perasaan tidak aman timbul ketika seseoramg “pernah” merasakan menjadi aman. aman untuk dicintai dan mencintai, aman untuk memiliki pendidikan, aman untuk memilih kebebasan pada dirinya. sedang aman, tidak selalu dialami oleh diri sendiri. melihat wanita lain yang menurutnya aman, akan menimbulkan perasaan tidak aman dalam diri sendiri. ini bukan hal yang tabu, ini bukan hal yang memalukan.

wanita kerap kali dibayangi budaya dan dibisiki perkataan ibu, ibunya ibu, ibu yang sebelumnya, ibu sambung, ibu tetangga.. dibekali, diwejangi untuk tidak menjadi seperti ini itu, agar kelak menjadi seperti ini itu. tak pernah jauh-jauh dari urusan pernikahan, keuangan, juga ranjang. menjadi wanita yang sukses berarti mampu memiliki pernikahan yang memberikan kebahagiaan lahir dan batin, juga memiliki pendidikan tinggi dan bekerja setelahnya, serta mampu mengurus rumah tangga, mendidik anak dan sebagainya. standar ini akan terus dijadikan indikator keberhasilan seorang wanita dalam membawa dirinya sendiri.

kebiasaan ini akan menimbulkan respon yang tak kalah hebatnya, sadar tak sadar, sengaja tak sengaja, seorang wanita akan berupaya untuk meraih hakikatnya, menjadi seorang wanita yang aman. dan tongkat estafet ini akan diteruskan kepada anak-anak nya, anak saudara, anak tetangga, juga wanita lain. tak henti-hentinya kita mengejar sesuatu yang telah dicapai seseorang, namun selalu lupa untuk menentukan apa yang benar-benar baik dan tepat untuk diri kita. tak henti-hentinya kita menciptakan sebuah kompetisi kasat mata sambil mengatakan bahwa sesama wanita tak perlu berkompetisi. tak henti-hentinya kita mengatakan hal-hal sampah terhadap wanita lain, padahal kita pernah betul menangis di malam hari merasa tidak aman dan tidak berdaya.

aku pernah sekali mendengar dan melihat Nadin Amizah menangis ketika menyanyikan lagunya, aku ingat betul lirik dimana suaranya mulai bergetar, “sedang aku dari pilu, aman yang ternyata palsu”. aku, pada akhirnya mengerti, bahwa tak pernah ada wanita yang betul-betul aman, semuanya dikemas agar tampak seperti itu. aku, pada akhirnya merasa aman.

perasaan tidak aman butuh divalidasikan, seperti rasa sakit yang berharap untuk dirasakan.

yang kami kagumi, Ibu Raden Ajeng Kartini.
terimakasih, kami sudah tidak takut. kami ini aman untuk bersama-sama merasakan ketidakamanan. jika ada satu hal yang perlu kami takuti, itu adalah ketidakmampuan kami dalam mencapai segala yang pada saat itu anda perjuangkan. kebebasan. kebebasan. harga diri dan diri sendiri.

No comments:

Post a Comment