Terasa sekali. Tempat yang sebelum ini pernah ramai , lalu sekarang berubah menanyai dirinya sendiri. Sudah pantaskah bagi dirinya menerima ribuan orang yang mencampuri isi kepalanya?
Sedang aku menganggap Halimunda adalah sandaran bagi seseorang yang tengah mencari jalan keluar. Kelaparan, ketidakadilan, napsu manusia. Seumur hidup ia menjelma sebagai eunoia, begitu indah, begitu dalam maksud hati dan tutur kata nya. Lalu aku mengemasi jawaban-jawaban atas apa yang pernah ia tanyakan.
Katanya, hiduplah kau, hiduplah dengan benar.
Namun bak jangkar liar yang berusaha memenangkan palung mariana. Hanya kemustahilan yang pada akhirnya kembali ke daratan, ke tepi-an, ke benak, dimana tempat kesadaran diri ditanamkan.
Terinspirasi dari buku Cantik itu Luka, oleh Eka Kurniawan
No comments:
Post a Comment