aku mencari barang satu saja yang mampu menyelamatkan diriku di hari-hari yang paling gelap, di mimpi-mimpi yang paling lucid sekalipun. aku terus terbangun dengan kilatan memori yang selalu hendak namun tak pernah dicatat. pecahlah tangisku, dibalik ketakutan yang menyebar bak nyala api dan membakar setiap percakapan di dalamnya.
aku melihat gereja, rumah sakit, sekolah. tempat orang-orang biasanya berkunjung dan menyaksikan perpisahan, jalan dimana kedua ujungnya tak pernah dipertemukan. sebuah tempat beristirahat bagi mereka yang belum menyerah dengan kehidupan, bagi mereka yang masih ingin tersenyum dan melupakan sedikit realita
No comments:
Post a Comment